REGU MEDIA

Rabu, 07 Januari 2009

ACHIEVE THE UNACHIEVABLE

Sir Paul Ardeen, maha guru advertising telah meninggalkan beberapa buku saku yg inspirational. Salah satu tulisannya ygpopuler saya kutip sebagai judul artikel ini. Kenapa judul ini saya anggap penting untuk saya angkat ? Kita semua tahu bahwa sekarang sedang terjadi tranformasi perubahan yg dahsyat di dunia komunikasi dimana Advertising menjadi bagiannya.

sekarang ini nampaknya semakin tak ada yg abadi dalam dunia Marketing. Dalam kata yg lebih posistif, semuasekarang bergerak sangat dinamis. Tak ada yg bisa menjamin adanya sebuah kestabilan.
STABIL = Monoton = STATIS = Comfort Zone
Nah kalo kita mencari kestabilan berarti kita sedang mendambakan sesuatu yg statis. Boring !
Sebuah Cafe dikawasan Bintaro yg buka sekitar setahun lalu menjadi tampat npngkrong yg hip dan dikunjungi oleh warga Bintaro dgn penuh.
Beberapa hari lalu, cafe itu sudah tidak penuh sesak lagi. Ternyata sebuah cafe lain telah buka diseberangnya dan nampak penuh sesak.
Contoh lain: Yahoo!, beberapa tahun lalu tidak akan terbayang akan disaingi oleh Google, yg sekarang telah menjadi penguasa "sekarang". yang menjadi pertanyaan, siapa yg menjamin Google tetap berkuasa hingga lima tahun mendatang.
Begitu juga pada dunia Advertising, seperti Agency LINTAS akhirnya tutup. Agency besar atau perusahaan besar bercitrakan Stabilitas.
Banyak perusahaan yg stabil (pada kenyataannya) harus bertumbangan. seperti Bakrie yg beberapa bulan lalu berjaya kini layu memudar.

JANGAN PERCAYA IKLAN (LAGI)
Jika Iklan adalah secara definitif adalahTVC, Print Ad, Radio, Online, Bolboard, POS, Activation yg sering dimasukkan kedalam kategori2 dalam lomba iklan saja. Berarti kita hidup di masa lalu. Masa yg penuh kestabilan. Masa kini dan masa depan adalah ketidakstabilan. Masa depan adalah kreasi2 baru, medium2 baru penuh inovasi baru.

MASA LALU BUKAN LAGI ANDALAN MASA DEPAN
Para Marketer telah sadar bahwa masa lalu harus disikapi dengan hati-hati. Segala macam pilar, ataupun jargon perusahaan telah menjelma menjadi ajang pemujaan terhadap perubahan, dinamisme dan pragmatisme. Advertising masih dikuasai oleh spirit "Established 1906"
Tengok saja Ogilvy, Y&R, DDB, JWT, Leo burnet dll. jaman inovasi telah merambah semua industri. Mampukah agency2 ini tetap berinovasi dimana kenyatannya memang industri Periklanan dunia dikuasai oleh nama2 besar itu.
Menarik diamati bahwa Leadership dibidang inovasi atau paling mendorong roda kreativiatassekarang banyak dilakukan oleh pemain2 baru, seperti : Droga5, StrawberryFrogg, CP+B, Wexley, Faith Popcorn dll.
Hal inilah yg menjadikandinamika dunia advertising semakin menarik. Media2 baru bermunculan, Agnecy2 baru bermunculan (sekaligus bertumbangan). Dan yg paling penting gerakan atau dinamisme audience yg semakin aktif berpartisipasi dalam dunia komunikasi (lebih dari sekedar iklan).
Berbicara tentang Audience, perkembangan budaya dan trend juga menjadi perhatianpengiklan. Karena audience bukan lagi obyek yg menjadi sasaran atau arah. Pemahaman tentang Consumer insight semakin berperan vital dalam perkembangan komunikasi. Adu inovasi tak hanya terbatas pada tataran iklan tapi juga dalam tataran strategi.
Kembali lagi pada tulisan Sir Paul Arden tentang Achieve The Unchievable, saya jadi semakin salut terhadap beliau ternyata ada juga yang tidak berubah (paling tidak belum), bahwa kita harus tetap semangat untuk meraih sesuatu yang keliatannya tidak mungkin. bahwa keadaan sekarang akan menimbulkan gairah-gairah baru untuk pencapaian baru.
SELAMAT BerINoVaSi !

HANDOKO HENDROYO
Principal, Creative Storyteller ONE-COMM+

Selasa, 06 Januari 2009

Al Qaeda: Serangan Israel adalah Hadiah Obama

Al Qaeda: Serangan Israel adalah Hadiah Obama
Ayman al-Zawahiri
Rabu, 7 Januari 2009 | 10:06 WIB

KAIRO, RABU — Orang kedua Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri, mengecam Presiden AS terpilih, Barack Obama, dalam rekaman audio yang disebarkan, Selasa (6/1).

Wakil Osama bin Laden itu menyalahkan Obama karena tidak melakukan apa pun untuk menghentikan serangan Israel di Jalur Gaza.

Rekaman audio itu adalah komentar pertama Al Qaeda sejak Israel menyerbu Gaza pada 27 Desember. Rekaman itu dikirim ke sebuah situs militan dan didapatkan SITE Monitoring Service, sebuah pusat monitoring intelijen.

Dalam pesannya, Zawahiri menggambarkan serangan Israel ke Gaza sebagai perang melawan Islam dan Muslim dan "hadiah Obama kepada Israel" sebelum dilantik 20 Januari.

"Ini adalah Obama yang Amerika gambarkan sebagai penyelamat yang akan mengubah kebijakan Amerika," kata Zawahiri, menurut SITE. "Dia membunuh saudara-saudara Anda di Gaza dengan kejam dan tanpa belas kasihan."

Zawahiri yang merupakan warga Mesir juga mengecam Presiden Mesir Hosni Mubarak karena menutup perbatasan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas. "Saat pesawat-pesawat Israel menjatuhkan bom, dia menutup perbatasan sehingga rencananya membunuh pejuang di Gaza terlaksana," kata Zawahiri.

Dia mendesak rakyat Mesir dan Muslim di seluruh dunia menekan Mubarak agar mau membuka perbatasan dan berperan aktif melawan Israel. Ribuan orang di kota-kota seluruh dunia turun ke jalan mengecam serangan Isreal, tetapi Zawahiri mengatakan itu belum cukup.

Rekaman itu disertai foto Zawahiri duduk dengan sebuah pistol di pangkuannya. Keaslian rekaman itu belum bisa dikonfirmasi. SITE mengaku mendapatkan rekaman itu dari situs yang biasa digunakan para milisi Islam. Rekaman itu juga disertai logo rumah produksi media Al Qaeda, Al Sahab.

Tiga Serangkai Pimpinan HAMAS

Tiga Serangkai Pimpinan Hamas
Mereka turut memainkan peran kunci bagi cerah tidaknya prospek perdamaian di Timur Tengah
Senin, 5 Januari 2009, 18:48 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
Khaled Mashaal (AP Photo)

VIVAnews - Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah atau "Gerakan Perlawanan Islam," yang lebih dikenal sebagai Hamas, adalah gerakan politis Palestina yang mengendalikan wilayah Gaza.

Organisasi ini dibentuk Desember 1987, di awal intifadah pertama, sebagai sebuah bagian dari gerakan Persaudaraan Muslim Lintas-Arab. Tiga serangkai pendiri Hamas adalah Sheikh Ahmed Yassin, Abdel Aziz al-Rantissi dan Mohammad Taha.

Sheikh Ahmed Yassin menjabat sebagai pemimpin spiritual Hamas. Tokoh Hamas kelahiran 1937 ini tewas dalam serangan helikopter Israel tahun 2004. Semasa hidup, mobilitas Yassin disokong oleh kursi roda setelah sebuah kecelakaan menjadikannya setengah buta saat ia berusia 12 tahun.

Sekitar 200 ribu warga Palestina turut menghadiri pemakaman Yassin. Sedangkan Abdel Aziz al-Rantissi bertugas sebagai pemimpin politik dan menjadi juru bicara kelompok Hamas setelah Yassin tewas. Rantissi juga dibunuh oleh misil Israel, 17 April 2004. Pria bergelar doktor ini tewas dalam usia 57 tahun.

Sementara Mohammad Taha ditangkap oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 2003. Kemudian, setelah ditahan selama 14 bulan tanpa sekalipun diadili, pada 5 Mei 2004 pria 68 tahun ini diperbolehkan kembali ke Gaza.

Kelompok Hamas meraih popularitas di wilayah Palestina karena keberanian mereka melawan okupasi militer Israel, dan juga karena kegiatan sosialnya. Kelompok ini muncul ke permukaan setelah kampanye bersenjata melawan Israel selama intifadah kedua yang berkobar sejak tahun 2000.

Janji kelompok Hamas dipublikasikan Agustus 1988. Prinsip kelompok militan ini adalah menolak segala kesepakatan dengan Israel dan ingin membentuk negara Islam di situ. Otoritas Israel segera mencekal kelompok Hamas segera setelah pengumuman itu.

Kini, tiga orang menjadi pimpinan kelompok Hamas, meneruskan era Yassin, al-Rantissi dan Taha. Mereka adalah Khaled Meshaal, Ismail Haniyah, dan Mahmoud Zahhar.

***

Khaled Meshaal sejak 1995 telah menjadi pemimpin senior politik bagi Hamas. Pria 51 tahun ini hidup dalam pengasingan di Damaskus, ibukota Siria. Dia adalah arsitek kunci kebijakan Hamas terhadap Israel. Bagi warga Palestina, Meshaal adalah pahlawan. Namun bagi Israel, Amerika Serikat, dan negara barat lain, Meshaal dianggap sebagai pemimpin sebuah organisasi yang berkomitmen menghancurkan Yahudi.

"Benar bahwa dalam realitanya, akan ada entitas atau sebuah negara menyebut sisa tanah Palestina sebagai Israel," kata Meshaal. "Tapi saya tidak akan berkompromi tentang itu, tidak akan mengakuinya," tegas Meshaal.

Seperti dikutip dari stasiun televisi Al Jazeera, setelah Israel menginvasi Tepi Barat tahun 1967, Meshaal dan keluarganya meninggalkan desa mereka di dekat Ramallah, seperti yang dilakukan keluarga lain. Beberapa waktu kemudian, Meshaal bergabung dengan Persaudaraan Muslim, kelompok Muslim yang berpengaruh terhadap politik.

Meshaal kemudian mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Kuwait, dia belajar fisika dan bergabung dengan kelompok mahasiswa yang disebut Daftar Hak-Hak Islam. Saat Hamas dibentuk tahun 1987, Meshaal memimpin cabang organisasi tersebut di Kuwait.

Meshaal meninggalkan Kuwait ketika terjadi invasi Irak tahun 1990. Meshaal pindah ke ibukota Yordania, Amman, di mana dia menjadi ketua cabang Hamas.

Meshaal sempat mengalami percobaan pembunuhan dari Benjamin Netanyahu,tahun 1997. Setelah Sheikh Ahmed Yassin terbunuh tahun 2004, dan beberapa pekan kemudian Abdel Aziz al-Rantissi juga tewas, reputasi Meshaal sebagai tokoh Hamas menjadi lebih nyata.

Namun dia tidak dapat kembali ke wilayah Palestina karena ada ketakutan akan ada percobaan pembunuhan atau penangkapan oleh pemerintah Israel. Untuk itu, Meshaal tinggal di pengasingan sejak 2001. Dia tetap dengan tegas mengatakan bahwa Hamas dan rakyat Palestina hanya berjuang untuk membela diri dari serangan Israel.

"Israel memulai okupasi dan sebagai tanggapan, muncul usaha untuk membela diri," kata Meshaal. "Mana yang datang terlebih dulu, okupasi atau pembelaan diri?" lanjut Meshaal.



***

Mahmoud Zahhar, seorang ahli bedah yang mengajar ilmu kedokteran di Universitas Islam di Gaza. Dia juga ikut membantu Yassin membentuk Hamas. Zahhar kemudian menjadi anggota "kepemimpinan kolektif" kelompok militan ini pada 2004 setelah Yassin dan Rantissi terbunuh.

Mahmoud Zahhar

Zahhar dianggap memiliki aliran lebih keras daripada rekannya, Ismail Haniyah. Zahhar lahir tahun 1945 di daerah Zeitoun di Kota Gaza, ibunya adalah seorang Mesir dan ayahnya asli Palestina.

Zahhar menghabiskan masa muda di Mesir, dia belajar kedokteran di Universitas Ain Shams di Kairo. Setelah lulus, dia mengambil spesialisasi ilmu bedah umum selama lima tahun.

Zahhar kemudian kembali ke Gaza dan mengajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Gaza, sama seperti Rantissi. Di situlah ia bergabung dengan cabang organisasi Islam terbesar dan tertua Mesir, Persaudaraan Muslim. Zahhar juga menjadi perwakilan tidak resmi di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) tahun 1990.

Seperti dikutip dari stasiun televisi BBC, pada Desember 1992, Zahhar beserta saudara laki-lakinya Fadel, dan juga Rantissi termasuk tiga dari sekitar 400 aktivis Islam yang dideportasi oleh Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin, ke Libanon selatan.

Zahhar dan Rantissi diizinkan kembali ke Gaza sekitar setahun berikutnya. Kembali ke Gaza bukan berarti perjuangan berakhir. Zahhar selalu menentang kebijakan otoritas Palestina, sehingga pasukan keamanan Palestina menangkapnya beberapa kali. Zahhar sempat mendekam di penjara selama tujuh bulan.

Dengan berkobarnya intifada kedua September 2000, popularitas Hamas semakin meningkat karena bom bunuh diri anggota sayap militer organisasi, Brigade Izzedine al-Qassam, terhadap Israel yang menewaskan sejumlah besar warga sipil Israel.

Israel merespon serangan dengan balik menyerang pemimpin politik dan militer Hamas. 10 September 2003, Israel mengebom kediaman Zahhar di Gaza, menghancurkan rumahnya. Zahhar selamat dari maut, tetapi malang bagi anak laki-lakinya yang berusia 25 tahun, Khaled, dan seorang penjaga rumah, terbunuh.

Waspada akan terjadi serangan berikutnya, Hamas menjaga kerahasiaan siapa pengganti Rantissi. Namun sumber menyebutkan bahwa pemimpin baru Hamas di Gaza adalah Zahhar, Ismail Haniyah, dan Said al-Siyam.

Sejak saat itu, Zahhar membawa pengaruh besar dalam proses politik Palestina. Hamas menyepakati gencatan senjata informal dengan Israel yang dimulai Februari 2005.

Hamas juga mengambil bagian dalam pemilihan umum untuk kali pertama. Walaupun komunitas internasional menyerukan agar kelompok Hamas menghentikan serangan, Zahhar dengan tegas mengatakan bahwa organisasinya mempunyai hak untuk bertahan dari serangan Israel.

"Kami tidak melakukan teror atau kekerasan. Kamilah yang berada di bawah penjajahan," kata Zahhar. "Israel terus melakukan agresi terhadap kami, membunuh, menawan, menghancurkan kami. Untuk menghentikan semua itu, kami membela diri dengan berbagai cara, termasuk menggunakan senjata."

Namun Zahhar juga mengemukakan kemungkinan diadakan pembicaraan damai dengan Israel melalui pihak ketiga.


***

Ismail Haniyah bukanlah siapa-siapa sebelum memimpin kampanye Hamas, sehingga kelompok militan ini menang dalam pemilihan legislatif Palestina, Januari 2006. Dia dekat dengan pemimpin spiritual Hamas, Yassin.

Ismail Haniya

Haniyah dikenal sebagai tokoh pragmatis yang lebih terbuka untuk berdialog dengan Israel. Namun dia menegaskan bahwa dialog damai dapat dilakukan bila Israel menerima hak-hak Palestina.

Haniyah lahir tahun 1962 di kamp pengungsian Shati di bagian barat kota Gaza. Dia belajar sastra Arab di Universitas Islam Gaza, tempat awal dia mengenal dan bergabung dengan gerakan Islam. Haniyah lulus tahun 1987 saat perlawanan terhadap Israel karena okupasi bergejolak.

Beberapa kali Israel menangkap Haniyah, dia pun sempat mendekam di penjara selama tiga tahun. Saat dibebaskan tahun 1992, Israel mendeportasi Haniyah bersama dengan seniornya, Rantissi dan Zahhar. Haniyah kembali ke Gaza Desember 1993 dan diangkat sebagai dekan Universitas Islam.

Setelah Israel membebaskan Yassin dari penjara pada 1997, Haniyah ditunjuk sebagai asisten. Hubungan dekat mereka membuat Haniyah menonjol dalam pergerakan dan dia menjadi wakil Palestina dalam Otoritas Palestina.

Dengan riwayat hidup demikian, datanglah ancaman dari Israel untuk membasmi pemimpin politik dan militer Hamas. Bersama Yassin, Haniyah sempat mengalami luka-luka akibat serangan udara Israel di sebuah apartemen di kota Gaza.

Bersama Mahmoud Zahhar dan Said al-Siyam, Haniyah bergabung dalam "kepemimpinan kolektif". Walaupun Zahhar dianggap paling senior, tetapi Haniyah terpilih menjadi pemimpin kampanye Hamas untuk pemilihan umum 15 Januari lalu.

Pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas, meminta Hamas untuk membentuk pemerintahan baru. Namun perundingan untuk mengusahakan koalisi dengan mantan partai yang berkuasa, Fatah, gagal.

Ketika Haniyah membeberkan program kerja pemerintahannya, Haniyah mendesak Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk tidak mengancam dengan menghentikan pembiayaan Otoritas Palestina kecuali Hamas melakukan kekerasan.

Haniyah menekankan bahwa Palestina akan terus berjuang meraih kemerdekaan, tetapi pada saat yang sama dia juga ingin mengadakan perundingan damai dengan bantuan mediator internasional.

"Pemerintah kami akan mengupayakan perdamaian di wilayah ini, mengakhiri pendudukan [Israel] dan mendapatkan kembali hak-hak kami," kata Haniyah.

• VIVAnews

Selasa, 25 November 2008

Pengikut